Pada kesempatan kali ini, di arsip ini, saya akan menceritakan tentang pendapat dan pengalaman saya, selama saya pernah menyinggahi atau belajar di sekolah. Terlalu banyak siswa maupun siswi, yang tidak paham kewajiban utama mereka di sekolah itu untuk belajar, bukan untuk bermain, mengobrol, ataupun lainnya. Mereka yang beruntung dapat bersekolah di sekolah yang unggulan maupun favorit, tidak bersyukur, apalagi untuk memanfaatkan kesempatan emas ini. Mereka justru besar kepala, tak peduli akan apa yang di ajarkan di sekolah masing-masing. Tentu saja, prasarana yang telah tersedia tidak digunakan dengan baik.
Saya pun pernah merasakan, bagaimana bersekolah dan tepatnya belajar pada sebuah kelas, yang ada salah satu ataupun beberapa muridnya yang tidak ada rasa bertanggung jawab untuk belajar. Mereka lebih sering bolos, tidur, atau yang lebih parahnya adalah kabur saat mata pelajaran sedang berlangsung, contoh saja, mereka lebih senang ke kantin, atau berkumpul dengan teman-temannya, mengobrol, dan obrolan mereka adalah "gosip, cinta, game, bahkan menjelekkan orang lain". Lalu, jika keadaan ini sudah seperti ini, apakah ini semua salah anak murid tersebut? Sebenarnya, konflik seperti itu wajar, dan lumrah, konflik itu timbul di sekolah bukan hanya karena salah murid, jika sekolah lebih tegas menerapkan pengawasan, saya jamin, mereka tidak akan kebobolan oleh perilaku anak murid yang tercela tersebut.
Sering kali para guru memberikan hukuman dengan cara menyuruh mereka berdiri di depan kelas, pada beberapa anak, akan ada perasaan jera, tetapi, pada sisanya, masih ada yang terus mengulang perbuatan tersebut sehingga menjadi kebiasaan yang tercela. Tak jarang guru yang sudah muak bahkan mengeluarkan murid-murid pengacau kelas itu dari kelas saat pelajaran berlangsung. Tetapi apa? Mereka makin merajalela untuk berkeliaraan di lingkungan sekolah bahkan luar sekolah. Masalah seperti inilah yang belum mendapatkan perhatian penuh dari pihak sekolah, bahkan orang tua anak murid tersebut. Tentu percuma, jika sarana sudah memenuhi, sedangkan sikap, dan kualitas anak didiknya itu tidak unggul. Lalu, apakah harus dikeluarkan? tidakkah ada solusi jitu untuk menyikapi anak murid yang nakalnya sudah melewati batas itu?
Masalah yang mungkin dianggap sepele ini pun akan merebak menjadi masalah sosial yang semakin besar, dan mengganggu murid-murid yang ingin serius belajar, mereka akan terganggu dengan sikap anak murid yang nakal tersebut. Sungguh disayangkan, apabila prasarana sekolah sudah canggih, guru yang mermutu, kurikulum dan buku pelajaran dari penerbit bermutu sudah tersedia, tetapi kualitas anak murid tersebut dibawah rata-rata.
Mungkin fenomena ini terjadi karena lembaga pendidikan khususnya sekolah, kurang selektif saat penerimaan siswa baru. Seharusnya, untuk sekolah unggulan, para calon peserta didik harus di uji dengan sedemikian rupa, agar benar-benar diambil yang bermutu. Inilah yang kurang diterapkan pada lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, bahkan, nilai pun dapat dibeli dengan uang, agar para anak yang tak cukup nilainya masih dapat masuk menjadi peserta didik di suatu sekolah unggulan. Jika situasi ini terus terjadi, bagaimana kita dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan bermutu?
Hanya sekedar saran, seharusnya Pemerintah memperketat para Pejabat Diknas maupun orang-orang yang terkait, agar mereka tak dapat melakukan tindakan KOLUSI agar para peserta calon didik, dapat melakukan tes dengan hasil yang murni tanpa ada suapan atau sejenisnya.
Rabu, 07 November 2012
Sabtu, 27 Oktober 2012
Generasi muda Indonesia di era pendidikan zaman sekarang
Pendidikan. Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk para masyarakat, belajar, belajar, dan belajar. Tak hanya anak muda, bahkan orang dewasa pun terus belajar walau umurnya makin bertambah. Pada era zaman sekarang, pendidikan adalah hal yang sangat penting, contohnya saja; saat melamar pekerjaan, dibutuhkan ijazah pendidikan yang minimal SMA sederajat. Itu menunjukkan bahwa, sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi, menentukan kualitas orang tersebut. Pendidikan mungkin bukan hal yang tabuh bagi masyarakat di perkotaan, tetapi berbanding terbalik dengan masyarakat di pedalaman. Sangat disayangkan, banyak wilayah pedalaman di Indonesia seperti di daerah pedalaman Jambi, Kalimantan, dan Papua. Masih banyak anak-anak yang seharusnya memiliki hak yang sama, yaitu, mengenyam pendidikan yang layak.
Tapi pada faktanya, masih banyak, generasi muda yang tidak mencicipi rasanya bersekolah dan mendapatkan pelajaran dengan layak. Ini sangat merugikan bagi kualitas negara kita, padahal Indonesia memiliki sumber daya manusia yang banyak, tetapi karena tidak mendapat kualitas pembelajaran yang baik, tentu sangat merugikan. Semua yakin, bahwa, jika ada niat, pasti sesuatu itu dapat terwujud. Sama seperti anak-anak pedalaman di beberapa daerah di Indonesia, pasti ada niat untuk belajar, walau di daerah yang sangat terbatas, tidak terjangkau, jauh dari lembaga pendidikan. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan persoalan ini, kita punya banyak calon penerus bangsa, tetapi tidak dibekali dengan pendidikan, sungguh sangat disayangkan. Tak perlu dengan sekolah yang megah, dan mewah. Hanya dengan pendidikan dan pengajaran merupakan bekal utama untuk generasi muda kita.
Lihat saja di beberapa negara maju, sebut saja Amerika Serikat, Cina, Inggris, mereka selalu berusaha untuk menciptakan karya-karya inovasi baru, dan kebanyakkan para ilmuan berasal dari negara tersebut. Mengapa demikian? karena masyarakat di negara-negara tersebut mempunyai keinginan untuk maju, dan dibekali oleh pendidikan yang terus berkembang. Mereka punya semangat, dan niat untuk selalu belajar, belajar, dan belajar. Dan pertanyaan yang muncul adalah, " Mengapa Indonesia tidak bisa seperti itu? " Jawabannya sangat sederhana, Indonesia sangat berpotensi untuk setara dengan negara-negara maju tersebut, khususnya pada bidang pendidikan. Tetapi, kurangnya semangat, pelatihan, dan infrastruktur untuk mendukung majunya pendidikan kita yang membuat kita jauh tertinggal dari negara-negara maju tersebut.
Tetapi, seiring berjalannya waktu, lahir lah pencipta-pencipta jenuis dari Indonesia, baik dalam bidang teknologi, musik, pendidikan, dan olahraga. Tetapi itu tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya. Pemerintah harus serius memberikan solusi terhadap persoalan ini, karena jika tidak, sangatlah merugikan untuk negara kita di masa mendatang.Pemerintah terlalu fokus terhadap masalah yang dialami sekarang, tidak memperhatikan dan membuat rencana untuk masa depan negara kita. Pada faktanya, Indonesia butuh revolusi besar yang bertujuan untuk membuat indonesia sangat maju dalam dunia pendidikan, tentunya ini memang tak dapat dilakukan dalam periode yang sebentar. Butuh waktu yang cukup lama untuk merubah segalanya menjadi lebih baik.Persoalan ini juga tak luput dari peranan semua masyarakat Indonesia. Karena percuma, jika pemerintah sudah memberikan solusi, tetapi tidak didukung oleh seluruh masyarakat indonesia tanpa terkecuali.
Tapi saya yakin, nanti, akan ada perubahan besar pada negeri kita yang tercinta ini. Asalkan semua masyarakat mendukung, dan bekerja sama antar satu sama lain. Bahwa sesungguhnya, keunggulan, dan kesejahteraan bagi semua adalah impian seluruh masyarakat.
Langganan:
Postingan (Atom)